DAFTAR JARINGAN BLOG

Custom Search

LINK BLOG

Masyarakat Grime Nawa Siap Sambut Pemekaran

Jayapura, Ketua Tim Kerja Pemekaran Kabupaten Grime Nawa, Arnold Udam,SH yang didampingi, Wakil Ketua Tim Kerja, Theodorus Yaung, A.KS mengatakan, masyarakat Grime Nawa siap menyambut kabupaten baru (pemekaran). "Untuk kesiapan itu, kita rancang grand designnya, sehingga ketika nanti sudah resmi dimekarkan, caretaker tinggal melaksanakan apa yang menjadi amanat dalam Musda ini," paparnya yang juga didampingi Rudolf Arim,S.Si, Octovina N,SH dan Marthinus K,SE di sela-sela acara Musda Masyarakat Adat Grime Nawa di Gedung Kesenian Tanah Papua, Jumat (26/9).Dikatakan, dalam Musda ini, para peserta dibagi dalam Pokja Agama, Perempuan, Pemuda, Intelektual dan Pokja Adat. "Dari pokja-pokja itu kemudian akan ada materi-materi yang akan dibahas, antara lain pertama, revitalisasi peran dan fungsi masyarakat adat, kemudian kedua, rencana tata ruang kota dan wilayah. Ketiga, kajian daerah dan visi misi kabupaten Grime Nawa," tuturnya. Keempat, tentang pemilihan umum dan organisasi perangkat daerah. Kelima, tentang pertumbuhan ekonomi dan penanaman modal, dan keenam membahas tentang sambutan Ketua DPR RI. "Itu yang menjadi intisari Musda ini dan rencananya Musda ini akan ditutup pada Sabtu siang sekitar pukul 13.00 WIT," lanjutnya.Pihaknya menjelaskan, Musda ini dibuka oleh Gubernur Papua yang diwakili oleh Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Papua, Drs. Celsius Pakage. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan, hendaknya Musda ini dilaksanakan dengan baik dan hendaknya aspirasi pemekaran harus dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada.Selain itu, Ketua DPR Papua yang diwakili oleh Wakil Ketua Komisi A DPRP, Ramses Wally juga turut memberikan sambutan. Pihaknya menyatakan bahwa secara hokum, Grime Nawa sudah final dan tinggal menunggu penetapan untuk dimekarkan.Selanjutnya, Ketua DPR RI, Agung Laksono juga memberikan sambutan dan dibacakan oleh Ketua Dewan Adat Daerah Grime Nawa, Matius Sawa.Menurut Agung Laksono, Musda ini sangat penting dan strategis untuk merespon dinamika aspirasi masyarakat adat di wilayah Grime Nawa. "Saya mendukung peningkatan peran para pemangku adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan seluruh komponen masyarakat lainnya di wilayah Grime Nawa, Papua untuk bersinergi membangun masyarakat yang lebih sejahtera," tutur Agung Laksono dalam sambutannya.Arnol Udam menambahkan, saat pembukaan dihadiri sekitar 600 orang, namun untuk proses Musdanya diikuti oleh 400 orang, yang merupakan para utusan dari 88 kampung dan 2 kelurahan di wilayah Grime Nawa."Ini menunjukkan betapa antusiasnya masyarakat untuk menyambut perubahan di Grime Nawa," pungkasnya. Sementara Ketua Panitia Musyawarah Daerah I (Musda I) Masyarakat Grimenawa, Dicky H.N Yakore mengatakan, Musda I ini akan menjadi momentum kekuatan dan kebersamaan dalam membangun fondasi Kabupaten Grimenawa ke depan. (fud/api) (sumber: cepos)
READ MORE - Masyarakat Grime Nawa Siap Sambut Pemekaran

Pemprov Papua Sambut Kepulangan Pencari Suaka

Makassar, Pemerintah Provinsi Papua menyambut baik kepulangan dua warga negara Indonesia asal Papua ke Tanah Air setelah gagal memperoleh suaka politik di Australia. Kedua warga tersebut adalah Hana Gobay asal Merauke dan Yubel Kareni asal Serui."Tak ada alasan menolak kedatangan mereka. Mereka adalah anak bangsa yang kebetulan lahir di Papua dan kini kembali mengenyam kehidupan di Tanah Air sendiri. Kita berharap warga setempat bisa menerima kembali saudaranya untuk hidup berdampingan rukun dan damai," ujar Yosef Berti Fernandez, Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Daerah Provinsi Papua, Kamis (25/9).Yosef yang dihubungi dari Makassar, mendapatkan keterangan bahwa Pemerintah Kabupaten Merauke dan Pemerintah Kabupaen Yapen pun menyambut hangat kedatangan dua warganya dengan mengirim sejumlah pejabat untuk menjemputnya dari bandara. Sehari sebelumnya, siaran pers Departemen Luar Negeri RI yang diterima Kompas menyebutkan, Gobay dan Kareni adalah dua dari 43 WNI asal Papua yang tahun 2005 meminta suaka politik ke Australia.Kepulangan tersebut adalah secara sukarela dan didorong oleh rasa kecewa mereka atas janji-janji dan keterangan palsu oleh tokoh dan kelompok tertentu. Kepulangan Gobay dan Kareni ke Tanah Air diawali dengan koordinasi Perwakilan RI di Austaralia pertengahan Juli 2008. Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal RI di Melbourne dan Kedutaan Besar RI di Canberra lalu memfasilitasi kepulangan keduanya ke kampung halaman. Selama proses kepulangan mereka sempat mendapat intimidasi dari pencari suaka lainnya tetapi mereka tetap pada pada niat untuk pulang ke Tanah Air.(sumver: kompas)
READ MORE - Pemprov Papua Sambut Kepulangan Pencari Suaka

PT Freeport Diteror Bom

TIMIKA – Bersamaan dengan kunjungan kerja Duta Besar (Dubes) AS untuk Indonesia, Cameron Hume dan Staff USAID ke areal kerja PT Freeport Indonesia (PTFI), teror bom mengguncang PTFI. Bahkan sebelum Dubes Amerika tiba di Timika, di sekitar Mile 32 terdengar rentetan tembakan senjata yang menghebohkan warga sekitar. Namun polisi yang mendapat laporan tidak menemukan adanya korban jiwa dan juga selongsong peluru. Sekitar pukul 11.30 WIT Kamis (11/9) dan pukul 03.30 WIT Jumat (12/9) dini hari, aksi teror bom kembali terjadi di dua tempat berbeda, masing-masing di Mile 39 dan di dekat penampungan solar milik PTFI di Mile 50. Ledakan bom di Mile 39, berupa mortir yang dipanaskan dengan kompor minyak tanah. Ledakan pertama ini mencoba merusak jembatan di Kali Kabur Sungai Otomona yang menghubungkan Timika dengan Tembagapura. Ledakan kedua Jumat dini hari, juga menggunakan mortir terjadi di dekat penampungan solar di Mile 50. Namun ledakan berdaya rendah itu, tidak mampu merubuhkan jembatan maupun merusak penampungan solar milik PTFI. Tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini. Sebelum terjadi teror bom mortir dan rentetan bunyi senjata, menjelang kunjungan Dubes AS ke Timika, juga sudah ada isu akan ada demo besar-besaran di Timika. Karenanya beberapa hari sebelum Dubes melakukan kunjungan kerja ke keberapa wilayah kerja PT FI, polisi memperketat pengamanan. Dalam terror bom tersebut, polisi menemukan barang bukti berupa mortir yang sudah meledak dan kompor minyak tanah yang diduga dipakai untuk membakar mortir bekas peninggalan perang dunia tersebut. Selain itu, polisi juga menemukan selebaran gelap yang intinya meminta PT FI ditutup, serta mengajak masyarakat untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora. Surat selebaran tersebut mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang ditandatangani pimpinannya ‘Jenderal’ Kelly Kwalik. Menyikapi teror yang menimpa perusahaan tambang asal Amerika itu, pihak Polda Papua segera mengambil langkah-langkah pengamanan. Bahkan Kapolda Papua, Irjen Polisi Drs. FX Bagus Ekodanto langsung memantau keadaan di lokasi kejadian di Timika. Usai melakukan pertemuan dengan jajarannya di Polres Mimika, Bagus Ekodanto menggelar jumpa pers. Dalam keterangannya kepada wartawan, Kapolda mengatakan pihaknya masih menyelidiki dan mengejar pelaku teror bom tersebut. Selain itu pihaknya juga berusaha mengumpulkan bukti-bukti, serta telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dalam penyelidikan, polisi menemukan barang bukti berupa mortir dan kompor di dua tempat terjadinya ledakan. Menurut Kapolda, mortir tersebut diduga diledakkan dengan cara dipanasi di kompor masak. Ini dikaitkan dengan temuan mortir yang sudah meledak serta dua unit kompor yang rusak akibat ledakan. Ledakan ini kata Kapolda tidak sampai merusak jembatan, sehingga akses ke areal tambang PTFI di Tembagapura dan Grasberg tidak terganggu. Kapolda dalam penjelasannya mengatakan, pihaknya saat ini masih terus mengejar para pelaku dengan melakukan penyisiran di sekitar TKP dibantu anjing pelacak. Hanya saja sampai saat ini belum satupun pelaku yang tertangkap. Kapolda juga belum bisa menyimpulkan apa motif dibalik teror tersebut. Apakah ada hubungannya dengan kunjungan Dubes AS untuk Indonesia ke areal tambang PTFI, hal ini masih diselidiki. Lebih lanjut Kapolda juga meragukan adanya surat selebaran yang ditandatangani ‘Jenderal’ Kelly Kwalik. “Saya lihat tipologi seperti ini merupakan bentuk teror, namun perlu pembuktian lebih lanjut,” kata Kapolda. Irjen Pol FX Bagus Ekodanto menjelaskan bahwa setelah ledakan, aparat Satuan Tugas (Satgas) Amole V bersama anggota Brimob Detazemen B Timika langsung mendatangi lokasi kejadian. Saat itulah mereka menemukan satu mortir dan dua kompor minyak tanah. Menurut Kapolda, mortir yang ditemukan di lokasi ini berukuran tinggi 50 Cm dengan berat 15 Kg. Saat aparat masih melakukan olah TKP di Mile 39, diperkirakan antara pukul 03.30 WIT dini hari, kembali terjadi ledakan susulan di Mile 50, tepatnya di pinggir pagar penampung solar PTFI. Aparat segera bergerak ke sana namun tidak menemukan para pelakunya. Di lokasi tersebut, aparat hanya menemukan sejenis mortir yang berukuran lebih kecil serta tumpukan batu yang diduga untuk memanasi mortir. Terkait kedua kejadian tersebut, Kapolda menjelaskan anggota Polres Mimika yang dibantu tim identifikasi dan Detasemen Khusus 88 Polda Papua telah melakukan olah TKP pada Jumat pagi kemarin. Barang bukti berupa mortir yang ditemukan persis di bawah jembatan Kali Kabur Mile 39 sudah diamankan ke Mako Detazemen B Brimob Timika untuk diusut lebih lanjut. “Kami juga minta bantuan dari tim laboratorium Forensik Makassar untuk mengidentifikasi jenis mortir yang digunakan oleh pelaku,” jelas Bagus Ekodanto. Masih terkait penyelidikan kasus ini, Kapolda mengatakan pihaknya telah memeriksa 18 orang saksi yang berada di sekitar TKP. Mereka yang diperiksa itu adalah masyarakat dan anggota security PTFI serta lima anggota kepolisian yang melakukan olah TKP awal pada Kamis malam hingga Jumat dinihari lalu. Disinggung tentang keterkaitan kejadian ini dengan munculnya dua surat yang mengatasnamakan pimpinan TPN/POPM yang ditandatangani ‘Jenderal’ Kelik Kwalik, Kapolda mengatakan belum bisa memastikannya. Irjen Pol FX Bagus Ekodanto mengakui aparat kepolisian juga mendapat dua selebaran gelap di Kampung Banti, Distrik Tembagapura yang isinya akan menutup tambang PTFI yang dikeluarkan oleh West Papua National Army atau tentara nasional pembebasan Papua Barat. Surat lainnya mengajak warga “Mari kita bersatu dalam aksi penutupan tambang PTFI dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora”. “Dari hasil konfirmasi kami, yang bersangkutan (kelompok Keli Kwalik-red) tidak pernah mengeluarkan selebaran tersebut,” kata Kapolda Papua yakin. Kapolda Papua menghimbau masyarakat Mimika untuk mewaspadai aksi teror ini dengan ikut memantau dan menjaga keamanan di lingkungannya masing-masing. “Saya perintahkan aparat untuk terus meningkatkan kegiatan patroli berupa razia senjata tajam, penyelidikan di lapangan, memperketat lokasi-lokasi yang dianggap rawan,” kata Kapolda Papua Bagus Eko Danto. Sementara itu PTFI melalui juru bicaranya Mindo Pangaribuan yang dikonfirmasi Radar Timika (grup Koran ini) mengatakan masalah ini diserahkan sepenuhnya ke aparat kepolisian. “Kami juga menunggu hasil penyelidikan polisi, jadi kami tidak bisa berkomentar,”tandasnya. Sementara dari pantauan grup Koran ini, situasi kota Timika berjalan normal alias tidak terganggu dengan adanya ledakan di areal PTFI.(eng/radarsorong)
READ MORE - PT Freeport Diteror Bom

P A P U A ;

Mutiara dari Timur

Tidak kurang dari empat belas kabupaten di Papua mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung. Banyak pilihan yang bisa kita kunjungi, ada wisata bahari yang mempersembahkan taman laut yang mempesona, wisata budaya, sejarah dan terlebih wisata fauna dan flora yang mungkin tidak bisa kita temui ditempat lain. Semua tempat wisata yang mengagumkan ini masih sangat alami. Dengan peradaban masyarakat pedalaman yang masih primitive, menjadikan Papua sebagai sebuah tempat yang sangat menarik perhatian para wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Kota Jaya Pura yang dulu dikenal dengan nama Hollandia terdapat sebuah museum yang menyediakan berbagai informasi budaya di Papua seperti ukiran dari berbagai kabupaten, alat perang, tenunan dan tarian adat, serta berbagai ritus dan peninggalan purbakala. Di Sentani juga terdapat tugu Jendral Douglas Mc Arthur peninggalan Perang Dunia II. Di sebelah utara monument Mc Arthur pada ketinggian 325 meter terdapat dataran pegunungan Cyclop dengan puncak gunung Dofonsoro. Daerah ini sangat indah dan dahulu kala tempat ini merupakan pangkalan pertahanan Mc Arthur. Dari puncak Cyclops dapat dipantau Danau Sentani dengan air yang bening biru. Danau seluas 9.670 hektar merupakan tempat mata pencarian penduduk Sentani dan sekitarnya. Danau sentani juga merupakan tempat rekreasi yang sangat indah dan sangat cocok untuk bersantai. Jika kita ingin meneruskan perjalanan dari Jayapura, tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi Biak. Di Kecamtan Biak Timur tetaptnya di desa RIM terdapat taman burung yang menampilkan bermacam jenis burung langka khas Irian yang hanya dapat ditemui di Papua. Luas taman burung ini mencapai sekitar dua hektar. Di derah ini juga memiliki taman laut yang sangat indah. Terletak dikepulauan Padaido yang terdiri dari 30 pulau kecil dan besar. Taman laut Padaido ini merupakan taman laut berkelas dunia yang terdiri dari berbagai tumbuhan laut, terumbu karang dan berbagai macam jenis ikan besar maupun kecil. Taman Nasional Laurentz terletak di Paniai, Puncak Jaya, Jayawijaya, dan Merauke. Di Puncak Jaya atau puncak Cartenz terdapat puncak salju abadi. Puncaknya bertudung es. Puncak Jaya ini tadinya disebut puncak Cartenz, sebuah puncak gunung yang ditemukan oleh orang Belanda tahun 1678. Puncak Cartenz merupakan satu-satunya puncak gunung yang diselimuti salju abadi yang ada di Asia Tenggara. Selain Taman Nasional Laurentz Papua juga memiliki Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua. Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%). Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish. Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.Jika anda ingin berkunjung atau sekedar melancong, Antara Bulan Mei sampai dengan Oktober adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Papua. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi: - Pulau Rumberpon. Pengamatan satwa (burung), penangkaran rusa, wisata bahari, menyelam dan snorkeling, kerangka pesawat tempur Jepang yang jatuh di laut. - Pulau Nusrowi. Menyelam dan snorkeling, wisata bahari, pengamatan satwa. - Pulau Mioswaar. Sumber air panas, air terjun, menyelam dan snorkeling, pengamatan satwa dan wisata budaya. liburan.info http://liburan.info Menggunakan Joomla! Generated: 9 September, 2008, 23:03 - Pulau Yoop dan perairan Windesi. Pengamatan ikan paus dan ikan lumba-lumba. - Pulau Roon. Pengamatan satwa burung, menyelam dan snorkeling, air terjun, wisata budaya, dan gereja tua. liburan.info http://liburan.info Menggunakan Joomla! Generated: 9 September, 2008, 23:03
READ MORE -
Isu Perempuan Papua di Tingkat Nasional Sepi Jayapura, Mungkin selama ini, orang mengenal isu Papua lebih dominan ke masalah politik ketimbang masalah perempuan. Buktinya, sampai saat ini, isu perempuan Papua di tingkat nasional masih sepi padahal kondisi ini menjadi perhatian semua pihak. Seperti yang diungkapkan Ketua Komnas HAM Perempuan Silvana ketika bertemu DPRP yang dipimpin Wakil Ketua I Komaruddin Watubun, SH dan Wakil Ketua II Paskalis Kossy, S.Pd, Senin (8/9). "Selama ini, tidak pernah ada yang bicara tentang isu perempuan Papua di tingkat nasional," katanya. Tak heran jika akhirnya ada kondisi kekosongan tentang isu perempuan Papua di tingkat nasional. Padahal selama ini sudah bukan rahasia lagi perempuan Papua sebagian besar masih jauh tertinggal dibandingkan dengan perempuan - perempuan di daerah lain di tanah air. Bahkan di sejumlah daerah di Papua menurut Ketua Komisi F yang juga membidangi perempuan Ir Weynand Watory bahwa perempuan Papua umumnya masih hidup dalam kemiskinan, ketertinggalan di berbagai aspek kehidupan hingga ketertindasan. "Mereka sering mengalami korban tindakan kekerasan, karena itu perempuan Papua memang harus ditolong," katanya. Hanya saja umumnya pengambil kebijakan di Papua banyak yang belum mengerti gender. Karena kondisi itu pula yang mendorong Komnas Perempuan datang ke Papua dan bertemu dengan sejumlah pengambil keputusan di Papua. "Kami ingin membangun visi bersama untuk membangun perempuan Papua dengan harapan isu perempuan Papua bisa menjadi salah satu katalis untuk elit politik serta hal - hal lainnya" kata Silvana lagi. Silvana yang didampingi beberapa stafnya ini juga mengungkapkan keheranannya karena meski tiga lembaga utama di Papua yakni eksekutif, MRP dan DPRP sudah memiliki posisi yang fokus terhadap perempuan, namun masalah yang dihadapi perempuan Papua belum juga terselesaikan. "Dengan tiga elemen ini, harusnya momennya sudah cukup bagi Papua, bahkan bisa bisa diteladani oleh daerah lain,," ujarnya.(ta) (sumber: cepos)
READ MORE -

ROHAMA JOGJA

Postingan :

HuMoR

Translate

Total Pageviews

SEBUAH CATATAN KECIL

Followers

Anda Pengunjung :

hit counter