DAFTAR JARINGAN BLOG

Custom Search

LINK BLOG

Masyarakat Grime Nawa Siap Sambut Pemekaran

Jayapura, Ketua Tim Kerja Pemekaran Kabupaten Grime Nawa, Arnold Udam,SH yang didampingi, Wakil Ketua Tim Kerja, Theodorus Yaung, A.KS mengatakan, masyarakat Grime Nawa siap menyambut kabupaten baru (pemekaran). "Untuk kesiapan itu, kita rancang grand designnya, sehingga ketika nanti sudah resmi dimekarkan, caretaker tinggal melaksanakan apa yang menjadi amanat dalam Musda ini," paparnya yang juga didampingi Rudolf Arim,S.Si, Octovina N,SH dan Marthinus K,SE di sela-sela acara Musda Masyarakat Adat Grime Nawa di Gedung Kesenian Tanah Papua, Jumat (26/9).Dikatakan, dalam Musda ini, para peserta dibagi dalam Pokja Agama, Perempuan, Pemuda, Intelektual dan Pokja Adat. "Dari pokja-pokja itu kemudian akan ada materi-materi yang akan dibahas, antara lain pertama, revitalisasi peran dan fungsi masyarakat adat, kemudian kedua, rencana tata ruang kota dan wilayah. Ketiga, kajian daerah dan visi misi kabupaten Grime Nawa," tuturnya. Keempat, tentang pemilihan umum dan organisasi perangkat daerah. Kelima, tentang pertumbuhan ekonomi dan penanaman modal, dan keenam membahas tentang sambutan Ketua DPR RI. "Itu yang menjadi intisari Musda ini dan rencananya Musda ini akan ditutup pada Sabtu siang sekitar pukul 13.00 WIT," lanjutnya.Pihaknya menjelaskan, Musda ini dibuka oleh Gubernur Papua yang diwakili oleh Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Papua, Drs. Celsius Pakage. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan, hendaknya Musda ini dilaksanakan dengan baik dan hendaknya aspirasi pemekaran harus dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada.Selain itu, Ketua DPR Papua yang diwakili oleh Wakil Ketua Komisi A DPRP, Ramses Wally juga turut memberikan sambutan. Pihaknya menyatakan bahwa secara hokum, Grime Nawa sudah final dan tinggal menunggu penetapan untuk dimekarkan.Selanjutnya, Ketua DPR RI, Agung Laksono juga memberikan sambutan dan dibacakan oleh Ketua Dewan Adat Daerah Grime Nawa, Matius Sawa.Menurut Agung Laksono, Musda ini sangat penting dan strategis untuk merespon dinamika aspirasi masyarakat adat di wilayah Grime Nawa. "Saya mendukung peningkatan peran para pemangku adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan seluruh komponen masyarakat lainnya di wilayah Grime Nawa, Papua untuk bersinergi membangun masyarakat yang lebih sejahtera," tutur Agung Laksono dalam sambutannya.Arnol Udam menambahkan, saat pembukaan dihadiri sekitar 600 orang, namun untuk proses Musdanya diikuti oleh 400 orang, yang merupakan para utusan dari 88 kampung dan 2 kelurahan di wilayah Grime Nawa."Ini menunjukkan betapa antusiasnya masyarakat untuk menyambut perubahan di Grime Nawa," pungkasnya. Sementara Ketua Panitia Musyawarah Daerah I (Musda I) Masyarakat Grimenawa, Dicky H.N Yakore mengatakan, Musda I ini akan menjadi momentum kekuatan dan kebersamaan dalam membangun fondasi Kabupaten Grimenawa ke depan. (fud/api) (sumber: cepos)
READ MORE - Masyarakat Grime Nawa Siap Sambut Pemekaran

Pemprov Papua Sambut Kepulangan Pencari Suaka

Makassar, Pemerintah Provinsi Papua menyambut baik kepulangan dua warga negara Indonesia asal Papua ke Tanah Air setelah gagal memperoleh suaka politik di Australia. Kedua warga tersebut adalah Hana Gobay asal Merauke dan Yubel Kareni asal Serui."Tak ada alasan menolak kedatangan mereka. Mereka adalah anak bangsa yang kebetulan lahir di Papua dan kini kembali mengenyam kehidupan di Tanah Air sendiri. Kita berharap warga setempat bisa menerima kembali saudaranya untuk hidup berdampingan rukun dan damai," ujar Yosef Berti Fernandez, Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Daerah Provinsi Papua, Kamis (25/9).Yosef yang dihubungi dari Makassar, mendapatkan keterangan bahwa Pemerintah Kabupaten Merauke dan Pemerintah Kabupaen Yapen pun menyambut hangat kedatangan dua warganya dengan mengirim sejumlah pejabat untuk menjemputnya dari bandara. Sehari sebelumnya, siaran pers Departemen Luar Negeri RI yang diterima Kompas menyebutkan, Gobay dan Kareni adalah dua dari 43 WNI asal Papua yang tahun 2005 meminta suaka politik ke Australia.Kepulangan tersebut adalah secara sukarela dan didorong oleh rasa kecewa mereka atas janji-janji dan keterangan palsu oleh tokoh dan kelompok tertentu. Kepulangan Gobay dan Kareni ke Tanah Air diawali dengan koordinasi Perwakilan RI di Austaralia pertengahan Juli 2008. Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal RI di Melbourne dan Kedutaan Besar RI di Canberra lalu memfasilitasi kepulangan keduanya ke kampung halaman. Selama proses kepulangan mereka sempat mendapat intimidasi dari pencari suaka lainnya tetapi mereka tetap pada pada niat untuk pulang ke Tanah Air.(sumver: kompas)
READ MORE - Pemprov Papua Sambut Kepulangan Pencari Suaka

PT Freeport Diteror Bom

TIMIKA – Bersamaan dengan kunjungan kerja Duta Besar (Dubes) AS untuk Indonesia, Cameron Hume dan Staff USAID ke areal kerja PT Freeport Indonesia (PTFI), teror bom mengguncang PTFI. Bahkan sebelum Dubes Amerika tiba di Timika, di sekitar Mile 32 terdengar rentetan tembakan senjata yang menghebohkan warga sekitar. Namun polisi yang mendapat laporan tidak menemukan adanya korban jiwa dan juga selongsong peluru. Sekitar pukul 11.30 WIT Kamis (11/9) dan pukul 03.30 WIT Jumat (12/9) dini hari, aksi teror bom kembali terjadi di dua tempat berbeda, masing-masing di Mile 39 dan di dekat penampungan solar milik PTFI di Mile 50. Ledakan bom di Mile 39, berupa mortir yang dipanaskan dengan kompor minyak tanah. Ledakan pertama ini mencoba merusak jembatan di Kali Kabur Sungai Otomona yang menghubungkan Timika dengan Tembagapura. Ledakan kedua Jumat dini hari, juga menggunakan mortir terjadi di dekat penampungan solar di Mile 50. Namun ledakan berdaya rendah itu, tidak mampu merubuhkan jembatan maupun merusak penampungan solar milik PTFI. Tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini. Sebelum terjadi teror bom mortir dan rentetan bunyi senjata, menjelang kunjungan Dubes AS ke Timika, juga sudah ada isu akan ada demo besar-besaran di Timika. Karenanya beberapa hari sebelum Dubes melakukan kunjungan kerja ke keberapa wilayah kerja PT FI, polisi memperketat pengamanan. Dalam terror bom tersebut, polisi menemukan barang bukti berupa mortir yang sudah meledak dan kompor minyak tanah yang diduga dipakai untuk membakar mortir bekas peninggalan perang dunia tersebut. Selain itu, polisi juga menemukan selebaran gelap yang intinya meminta PT FI ditutup, serta mengajak masyarakat untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora. Surat selebaran tersebut mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang ditandatangani pimpinannya ‘Jenderal’ Kelly Kwalik. Menyikapi teror yang menimpa perusahaan tambang asal Amerika itu, pihak Polda Papua segera mengambil langkah-langkah pengamanan. Bahkan Kapolda Papua, Irjen Polisi Drs. FX Bagus Ekodanto langsung memantau keadaan di lokasi kejadian di Timika. Usai melakukan pertemuan dengan jajarannya di Polres Mimika, Bagus Ekodanto menggelar jumpa pers. Dalam keterangannya kepada wartawan, Kapolda mengatakan pihaknya masih menyelidiki dan mengejar pelaku teror bom tersebut. Selain itu pihaknya juga berusaha mengumpulkan bukti-bukti, serta telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dalam penyelidikan, polisi menemukan barang bukti berupa mortir dan kompor di dua tempat terjadinya ledakan. Menurut Kapolda, mortir tersebut diduga diledakkan dengan cara dipanasi di kompor masak. Ini dikaitkan dengan temuan mortir yang sudah meledak serta dua unit kompor yang rusak akibat ledakan. Ledakan ini kata Kapolda tidak sampai merusak jembatan, sehingga akses ke areal tambang PTFI di Tembagapura dan Grasberg tidak terganggu. Kapolda dalam penjelasannya mengatakan, pihaknya saat ini masih terus mengejar para pelaku dengan melakukan penyisiran di sekitar TKP dibantu anjing pelacak. Hanya saja sampai saat ini belum satupun pelaku yang tertangkap. Kapolda juga belum bisa menyimpulkan apa motif dibalik teror tersebut. Apakah ada hubungannya dengan kunjungan Dubes AS untuk Indonesia ke areal tambang PTFI, hal ini masih diselidiki. Lebih lanjut Kapolda juga meragukan adanya surat selebaran yang ditandatangani ‘Jenderal’ Kelly Kwalik. “Saya lihat tipologi seperti ini merupakan bentuk teror, namun perlu pembuktian lebih lanjut,” kata Kapolda. Irjen Pol FX Bagus Ekodanto menjelaskan bahwa setelah ledakan, aparat Satuan Tugas (Satgas) Amole V bersama anggota Brimob Detazemen B Timika langsung mendatangi lokasi kejadian. Saat itulah mereka menemukan satu mortir dan dua kompor minyak tanah. Menurut Kapolda, mortir yang ditemukan di lokasi ini berukuran tinggi 50 Cm dengan berat 15 Kg. Saat aparat masih melakukan olah TKP di Mile 39, diperkirakan antara pukul 03.30 WIT dini hari, kembali terjadi ledakan susulan di Mile 50, tepatnya di pinggir pagar penampung solar PTFI. Aparat segera bergerak ke sana namun tidak menemukan para pelakunya. Di lokasi tersebut, aparat hanya menemukan sejenis mortir yang berukuran lebih kecil serta tumpukan batu yang diduga untuk memanasi mortir. Terkait kedua kejadian tersebut, Kapolda menjelaskan anggota Polres Mimika yang dibantu tim identifikasi dan Detasemen Khusus 88 Polda Papua telah melakukan olah TKP pada Jumat pagi kemarin. Barang bukti berupa mortir yang ditemukan persis di bawah jembatan Kali Kabur Mile 39 sudah diamankan ke Mako Detazemen B Brimob Timika untuk diusut lebih lanjut. “Kami juga minta bantuan dari tim laboratorium Forensik Makassar untuk mengidentifikasi jenis mortir yang digunakan oleh pelaku,” jelas Bagus Ekodanto. Masih terkait penyelidikan kasus ini, Kapolda mengatakan pihaknya telah memeriksa 18 orang saksi yang berada di sekitar TKP. Mereka yang diperiksa itu adalah masyarakat dan anggota security PTFI serta lima anggota kepolisian yang melakukan olah TKP awal pada Kamis malam hingga Jumat dinihari lalu. Disinggung tentang keterkaitan kejadian ini dengan munculnya dua surat yang mengatasnamakan pimpinan TPN/POPM yang ditandatangani ‘Jenderal’ Kelik Kwalik, Kapolda mengatakan belum bisa memastikannya. Irjen Pol FX Bagus Ekodanto mengakui aparat kepolisian juga mendapat dua selebaran gelap di Kampung Banti, Distrik Tembagapura yang isinya akan menutup tambang PTFI yang dikeluarkan oleh West Papua National Army atau tentara nasional pembebasan Papua Barat. Surat lainnya mengajak warga “Mari kita bersatu dalam aksi penutupan tambang PTFI dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora”. “Dari hasil konfirmasi kami, yang bersangkutan (kelompok Keli Kwalik-red) tidak pernah mengeluarkan selebaran tersebut,” kata Kapolda Papua yakin. Kapolda Papua menghimbau masyarakat Mimika untuk mewaspadai aksi teror ini dengan ikut memantau dan menjaga keamanan di lingkungannya masing-masing. “Saya perintahkan aparat untuk terus meningkatkan kegiatan patroli berupa razia senjata tajam, penyelidikan di lapangan, memperketat lokasi-lokasi yang dianggap rawan,” kata Kapolda Papua Bagus Eko Danto. Sementara itu PTFI melalui juru bicaranya Mindo Pangaribuan yang dikonfirmasi Radar Timika (grup Koran ini) mengatakan masalah ini diserahkan sepenuhnya ke aparat kepolisian. “Kami juga menunggu hasil penyelidikan polisi, jadi kami tidak bisa berkomentar,”tandasnya. Sementara dari pantauan grup Koran ini, situasi kota Timika berjalan normal alias tidak terganggu dengan adanya ledakan di areal PTFI.(eng/radarsorong)
READ MORE - PT Freeport Diteror Bom

P A P U A ;

Mutiara dari Timur

Tidak kurang dari empat belas kabupaten di Papua mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung. Banyak pilihan yang bisa kita kunjungi, ada wisata bahari yang mempersembahkan taman laut yang mempesona, wisata budaya, sejarah dan terlebih wisata fauna dan flora yang mungkin tidak bisa kita temui ditempat lain. Semua tempat wisata yang mengagumkan ini masih sangat alami. Dengan peradaban masyarakat pedalaman yang masih primitive, menjadikan Papua sebagai sebuah tempat yang sangat menarik perhatian para wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Kota Jaya Pura yang dulu dikenal dengan nama Hollandia terdapat sebuah museum yang menyediakan berbagai informasi budaya di Papua seperti ukiran dari berbagai kabupaten, alat perang, tenunan dan tarian adat, serta berbagai ritus dan peninggalan purbakala. Di Sentani juga terdapat tugu Jendral Douglas Mc Arthur peninggalan Perang Dunia II. Di sebelah utara monument Mc Arthur pada ketinggian 325 meter terdapat dataran pegunungan Cyclop dengan puncak gunung Dofonsoro. Daerah ini sangat indah dan dahulu kala tempat ini merupakan pangkalan pertahanan Mc Arthur. Dari puncak Cyclops dapat dipantau Danau Sentani dengan air yang bening biru. Danau seluas 9.670 hektar merupakan tempat mata pencarian penduduk Sentani dan sekitarnya. Danau sentani juga merupakan tempat rekreasi yang sangat indah dan sangat cocok untuk bersantai. Jika kita ingin meneruskan perjalanan dari Jayapura, tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi Biak. Di Kecamtan Biak Timur tetaptnya di desa RIM terdapat taman burung yang menampilkan bermacam jenis burung langka khas Irian yang hanya dapat ditemui di Papua. Luas taman burung ini mencapai sekitar dua hektar. Di derah ini juga memiliki taman laut yang sangat indah. Terletak dikepulauan Padaido yang terdiri dari 30 pulau kecil dan besar. Taman laut Padaido ini merupakan taman laut berkelas dunia yang terdiri dari berbagai tumbuhan laut, terumbu karang dan berbagai macam jenis ikan besar maupun kecil. Taman Nasional Laurentz terletak di Paniai, Puncak Jaya, Jayawijaya, dan Merauke. Di Puncak Jaya atau puncak Cartenz terdapat puncak salju abadi. Puncaknya bertudung es. Puncak Jaya ini tadinya disebut puncak Cartenz, sebuah puncak gunung yang ditemukan oleh orang Belanda tahun 1678. Puncak Cartenz merupakan satu-satunya puncak gunung yang diselimuti salju abadi yang ada di Asia Tenggara. Selain Taman Nasional Laurentz Papua juga memiliki Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua. Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%). Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish. Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.Jika anda ingin berkunjung atau sekedar melancong, Antara Bulan Mei sampai dengan Oktober adalah saat yang tepat untuk mengunjungi Papua. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi: - Pulau Rumberpon. Pengamatan satwa (burung), penangkaran rusa, wisata bahari, menyelam dan snorkeling, kerangka pesawat tempur Jepang yang jatuh di laut. - Pulau Nusrowi. Menyelam dan snorkeling, wisata bahari, pengamatan satwa. - Pulau Mioswaar. Sumber air panas, air terjun, menyelam dan snorkeling, pengamatan satwa dan wisata budaya. liburan.info http://liburan.info Menggunakan Joomla! Generated: 9 September, 2008, 23:03 - Pulau Yoop dan perairan Windesi. Pengamatan ikan paus dan ikan lumba-lumba. - Pulau Roon. Pengamatan satwa burung, menyelam dan snorkeling, air terjun, wisata budaya, dan gereja tua. liburan.info http://liburan.info Menggunakan Joomla! Generated: 9 September, 2008, 23:03
READ MORE -
Isu Perempuan Papua di Tingkat Nasional Sepi Jayapura, Mungkin selama ini, orang mengenal isu Papua lebih dominan ke masalah politik ketimbang masalah perempuan. Buktinya, sampai saat ini, isu perempuan Papua di tingkat nasional masih sepi padahal kondisi ini menjadi perhatian semua pihak. Seperti yang diungkapkan Ketua Komnas HAM Perempuan Silvana ketika bertemu DPRP yang dipimpin Wakil Ketua I Komaruddin Watubun, SH dan Wakil Ketua II Paskalis Kossy, S.Pd, Senin (8/9). "Selama ini, tidak pernah ada yang bicara tentang isu perempuan Papua di tingkat nasional," katanya. Tak heran jika akhirnya ada kondisi kekosongan tentang isu perempuan Papua di tingkat nasional. Padahal selama ini sudah bukan rahasia lagi perempuan Papua sebagian besar masih jauh tertinggal dibandingkan dengan perempuan - perempuan di daerah lain di tanah air. Bahkan di sejumlah daerah di Papua menurut Ketua Komisi F yang juga membidangi perempuan Ir Weynand Watory bahwa perempuan Papua umumnya masih hidup dalam kemiskinan, ketertinggalan di berbagai aspek kehidupan hingga ketertindasan. "Mereka sering mengalami korban tindakan kekerasan, karena itu perempuan Papua memang harus ditolong," katanya. Hanya saja umumnya pengambil kebijakan di Papua banyak yang belum mengerti gender. Karena kondisi itu pula yang mendorong Komnas Perempuan datang ke Papua dan bertemu dengan sejumlah pengambil keputusan di Papua. "Kami ingin membangun visi bersama untuk membangun perempuan Papua dengan harapan isu perempuan Papua bisa menjadi salah satu katalis untuk elit politik serta hal - hal lainnya" kata Silvana lagi. Silvana yang didampingi beberapa stafnya ini juga mengungkapkan keheranannya karena meski tiga lembaga utama di Papua yakni eksekutif, MRP dan DPRP sudah memiliki posisi yang fokus terhadap perempuan, namun masalah yang dihadapi perempuan Papua belum juga terselesaikan. "Dengan tiga elemen ini, harusnya momennya sudah cukup bagi Papua, bahkan bisa bisa diteladani oleh daerah lain,," ujarnya.(ta) (sumber: cepos)
READ MORE -

PAPUA TAMBAH 5 KABUPATEN


WAMENA, - Lima kabupaten baru di Provinsi Papua masing-masing Mamberamo Tengah, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Nduga, dan Puncak diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendgari) Mardiyanto pada Sabtu pagi. Pembentukan lima kabupaten baru itu didasarkan pada UU No3-7 tahun 2008 tentang pembentukan kabupaten baru. Berdasar UU No3/2008 tentang Kabupaten Mamberamo Tengah terdiri atas lima distrik dengan Kobakma sebagai ibukota kabupaten. Sementara itu, sesuai UU No4/2008 tentang Pembentukan Kabupaten Yalimo, ditetapkan sebagai kabupaten baru dengan lima distrik dan ibukotanya Elelim. Sedangkan Kabupaten Lanny Jaya yang dibentuk berdasar UU No5/2008 terdiri atas sepuluh distrik dengan Tiom sebagai ibukota kabupaten. Kabupaten Nduga yang dibentuk berdasar UU No6/2008 terdiri atas delapan distrik dengan Kenyam sebagai ibukota kabupaten. Kabupaten baru kelima yakni Kabupaten Puncak terdiri atas delapan distrik dengan Ilaga sebagai ibukota kabupaten. Dengan diresmikannya lima kabupaten baru itu, dan satu kabupaten sebelumnya yakni Kabupaten Dogiyai, kini terdapat 12 kabupaten di kawasan Pegunungan Tengah Provinsi Papua. Acara peresmian lima kabupaten baru itu disemarakkan dengan upacara "bakar batu" sebagai tanda sukacita dari masyarakat setempat karena telah dapat mengelola daerahnya secara otonom. Setelah resmi dinyatakan sebagai kabupaten baru, Mendagri langsung melantik para bupati kelima kabupaten tersebut. Terkait itu, pemerintah telah menetapkan David Pagawak sebagai Bupati Mamberamo Tengah, Elia Ibrahim Loupatty sebagai Bupati Yalimo, Pribadi Sukartono sebagai Bupati Lanny Jaya, Hans Dortheus sebagai Bupati Nduga dan Simon Alom sebagai Bupati Puncak. Masing-masing bupati tersebut akan bertugas paling lama satu tahun dalam masa itu kepala daerah bersangkutan harus segera mempersiapkan organisasi dan mekanisme pemerintahan daerah, menyelenggarakan pemerintahan dan memfasilitasi pemilihan bupati dan wakil bupati definitif. (Sumber : Ant/www.kompas.com)
READ MORE -

BUPATI MINTA WARGA TANAM POHON PRODUKTIF

FAKFAK-Bupati Dr.Wahidin Puarada, M.Si, saat bertemu dengan Kadistrik, Lurah dan Ketua RT se- wilayah Distrik Fakfak dan Fakfak Tengah di Windter Tuare, mengatakan, kebersihan dan penataan lingkungan yang sejuk merupakan hal penting yang menjadi perhatian Pemda. Hal ini berkaitan adanya kunjungan tamu dari Pusat dan Lomba Adi Pura serta persiapan menyambut MTQ tingkat Provinsi Papua Barat yang direncanakan berlangsung bulan April 2008 mendatang. Pertemuan yang berlangsung selam 2 jam itu, Bupati Puarada lebih menekankan pentingnya kebersihan dan penataan lingkungan yang sejuk dengan penanaman pohon produktif disamping tanaman bunga hias. Untuk menciptakan kebersihan dan penataan lingkungan, Ketua RT yang ada di wilayah Distrik Fakfak dan Fakfak Tengah harus lebih berperan dan memberikan contoh kepada warganya. Selain itu harus menyiapkan tong sampah untuk sampah organik maupun non organik. Manfaatkan gerakan minggu bersih melalui kerja bhakti di lingkungan RT dan gerakan menanam pohon produktif. Pada pertemuan Bupati dengan Kadistrik, Lurah, dan Ketua RT se-wilayah Distrik Fakfak dan Fakfak Tengah, Bupati yang akrab dengan masyarakat itu, juga menyampaikan hasil analisis tim penilaian Adipura kota kecil terbersih. Bupati menjelaskan, sejumlah tempat seperti lingkungan perkantoran, sekolah, RSUD, terminal dan 3 pasar yang ada di kota pala Fakfak serta tempat pembuangan akhir (TPA) ternyata belum menggambarkan kebersihan dan kesejukan, sehingga perlu ditata sebaik mungkin. Masalah kebersihan dan kesejukan harus dilakukan tidak semata untuk menghadapi lomba Adipura atau agenda penting lainnya. Namun sesungguhnya, kata Bupati, masalah kebersihan dan kesejukan kota sudah merupakan keharusan. Bahkan dianjurkan dalam agama, untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sehingga bila ada tamu yang berkunjung ke daerah ini tidak terkesan kota tua, tetapi harus membawa kesan kota yang indah dan bersih dipandang mata.(ric)
READ MORE -

IPM Papua Peringkat Terakhir

Pasca diberlakukan UU No 21 Tahun 2001, perihal pemberlakuan Otonomi Khusus (Otsus) di Tanah Papua, ternyata Provinsi Papua masih berada pada peringkat terakhir indeks Pembangunan manusia Indonesia. Provinsi Papua memiliki ranking ke 33 dari 33 Provinsi di seluruh Indonesia.

Kondisi inilah yang mendorong pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif sebagai modal dasar dalam mendukung peningkatan daya saing wilayah secara berkelanjutan. Inspektur utama Bagus Rumbogo mewakili Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzzeta menegaskan hal itu pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Provinsi Papua 2008 di Gedung Sasana Krida, Pemprov Papua, Selasa (29/4) siang.

Sedangkan, lanjut Bagus, pendapatan perkapita warga di Provinsi Papua pada peringkat lima dari seluruh Provinsi, serta Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan migas dan non migas di peringkat 14 dan 13 dari seluruh Provinsi. “Sektor pertambangan dan galian dan sektor pertanian termasuk perikanan, menjadi penyumbang terbesar PDRB Papua,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Bagus, diperlukan peningkatan daya saing melalui produktivitas dan penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi, serta pembaruan sumber daya yang tereksplorasi. Bagus menambahkan, untuk tingkat pengangguran di Papua dalam mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data jumlah pengangguran terbuka bulan Agustus 2007 sebanyak 49,7 ribu (5,01%). Sedangkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 sebanyak 793 ribu jiwa (40,78 %). Sehingga, diakui Agus, guna mempercepat penurunan kemiskinan dan pengangguran, pelaksanaan berbagai program pembangunan perlu diarahkan ke kecamatan dan desa – desa miskin, serta dilakukan dengan pola padat karya. Acara Musrembang Provinsi Papua yang dibuka hanya diikuti 12 Bupati dari 21 Bupati se Provinsi Papua.

READ MORE -

KESENIAN PAPUA

Penting Untuk Dikembangkan

"Kesenian di Papua adalah penting untuk dikembangkan sebab merupakan bagian dari kebudayaan yang harus diberi hak dan kesempatan besar untuk dapat bertumbuh sehingga menjadikan Papua sebagai mercusuar Indonesia bagi sesama etnisnya di Negara-negara yang berada di kawasan pasifik. Dalam artian, harus direkayasa sedemikian rupa sehingga Negara-negara se-etnis Melanesia di pasifik justru menggantungkan harapannya ke Papua yang adalah bagian integral dalam NKRI. Menurut Gubernur Papua, Barnabas Suebu, SH kekhasan serta serba keunikan ciri kesenian dan kebudayaan Papua itu patut dikembangkan karena keterlibatan penuh warga penduduknya berikut lingkungan alam dan kandungannya adalah aset kita yang potensial. Kenyataan ini hendaknya, ditata dan dikelola guna menjadi suatu cadangan kekuatan Pembangunan Daerah yang sementara ini sedang digalakkan. Demikian ditegaskan Gubernur Papua dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Bidang Aparatur Setda Provinsi Papua, Drs. Hendrik Kaisiepo, M.Si pada acara pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) IV Dewan Kesenian Tanah Papua, di Hotel Numbay Dok V Atas Jayapura,

'Gubernur mengatakan, Kebijakan Pemerintah memberikan kewenangan sebesar-besarnya kepada Provinsi Papua untuk menata kehidupannya melalui berbagai aspek pembangunan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada, lingkungan dan berbagai potensi lainnya termasuk dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara umum dan seniman pada khususnya Oleh karena itu, Dewan Kesenian Tanah Papua yang merupakan sebuah lembaga profesi mitra Pemerintah, memiliki peran dan fungsi untuk menggali, membina, mengembangkan dan melindungi seni budaya Papua. Dengan demikian, berkaitan dengan pelaksanaan Musda, diharapkan akan memperbincangkan hal-hal konkrit yang dialami seniman dalam keterkaitan dengan keberadaan organisasi ini. Diharapkan pula melalui pelaksanaan Musda, dapat melahirkan program-program yang diarahkan kepada upaya meningkatkan kualitas hidup seniman di Tanah Papua. “Kita harap agar dalam hal rekruitmen personil pengurus, dapat memperhatikan kemampuan intelektual, dan kemampuan managerial seseorang serta memiliki sikap kepemimpinan yang bermartabat. Serta melakukan konsolidasi yang meliputi struktur organisasi dan program,” ujarnya.

'Kegiatan Kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) IV Dewan Kesenian Tanah Papua, ini dilaksanakan mulai tanggal 24 s/d 26 April 2008. Acara pembukaan Musda ini, dibuka oleh Asisten II Bidang Aparatur Setda Papua, Hendrik Kaisiepo mewakili Gubernur Papua yang berhalangan hadir. Kegiatan ini, dihadiri pengurus lengkap Dewan Kesenian Tanah Papua, Pengurus Dewan Kesenian Kabupaten/Kota se-Tanah Papua, seniman entertainment maupun seniman lepas serta Instansi terkait yang seluruhnya berjumlah 80 orang.

READ MORE -

SUARA BUNGA KERIS

Biak, Bunga keris khas Papua milik ibu Dolly Kurni, warga Kampung Yafdas, Distrik Samofa,Kabupaten Biak Numfor,Papua, dalam sebulan terakhir ini mengeluarkan bunyi suara yang unik pada malam hari.

Dari Biak, Rabu dillaporkan, bunga keladi khas Papua, yang daunnya menyerupai keris, milik ibu Kurni pada setiap hari antara pukul 19.30 WIT hingga pukul 23.00 WIT mengeluarkan suara dan tetesan air bening.

"Saya juga heran ada suara unik yang muncul di bunga keris Papua miliknya setiap malam pada jam-jam tertentu,"ungkap ibu Kurni.

Ia mengatakan, bunga keris khas Papua yang diperolehnya dari keluarga Jalan Dolog Biak awalnya hanya untuk dikoleksi dijadikan bunga hiasan di dalam rumah. Sejak dirinya memelihara dan merawat bunga keris Papua di rumah, menurut istri Nico Sroyer, setiap malam pada jam-jam tertentu terdengar suara yang unik dari bunga itu.

"Saya tak tahu fenomena apa di balik munculnya suara pada bunga keris Papua ini, dan wartawan sendiri pun bisa langsung mendengarnya," ujar Kurni Selasa (1/4) malam.

Bunga keris Papua yang belakangan semakin diminati banyak warga Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua selain dijadikan koleksi bunga juga diperjualbelikan oleh warga masyarakat asli Papua.

Kegiatan penjualan bunga Keris Papua dapat dijumpai pada beberapa lokasi di Biak, seperti kawasan Hadi supermarket, di pinggiran jalan menuju pelabuhan, serta sejumlah tempat strategis lainnya.

"Bunga Keris khas Papua tumbuhnya tak sembarangan tempat, hanya tumbuh di hutan tertentu di Papua. Untuk mendapatkan bunga inipun sangat sulit,"katanya.

(sumber: kompas)

READ MORE -

KAIMANA KEMBANGKAN 1 Juta Pohon PALA

Kaimana, Di Kota Senja Kaimana Papua Barat kini sedang digalakkan penanaman satu juta bibit pala sebagai persiapan menjadikan komoditas ekspor ini sebagai andalan bagi kabupaten yang baru berusia lima tahun itu. Pencanangan dilakukan Bupati Kaimana Hasan Achmad sejak tahun 2007 dengan mempersiapkan 100.000 bibit. Luis Umberi, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kaimana mengatakan penanaman bibit dilakukan di tujuh distrik yang terdapat di Kaimana. Ia mengatakan program satu juta pohon ini paling lama terealisasi 2017. Selain penanaman baru, bibit juga disediakan untuk mengganti pohon pala yang telah rusak, ujar Luis. Ia memperkirakan bibit ini dapat mulai menghasilkan buah sekitar delapan tahun mendatang. Setiap 10 pohon ditargetkan mampu menghasilkan 5-6 ton buah pala. Ia mengatakan selama ini pala hasil garapan petani Kaimana diterima penadah dan pedagang yang mengirimkannya ke Surabaya dan daerah-daerah lain. Harga isi pala Rp 18.000 per kilogram dan buah Rp 35.000 per kilogram. Buah pala di Kaimana seperti halnya di kabupaten induk Fakfak berbuah setahun dua kali yaitu sekitar bulan April dan Desember. Karena bertepatan dengan musim di lautan, musim angin barat dan angin timur, buah yang matang bulan April biasa disebut Pala Barat dan di bulan Desember disebut Pala Timur. Menurut data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kaimana, produksi rata-rata per tahun komoditas tanaman perkebunan pala sebanyak 324.443 ton. Hasil ini ingin terus digenjot untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat. (sumber: kompas)
READ MORE - KAIMANA KEMBANGKAN 1 Juta Pohon PALA

KAIMANA KEMBANGKAN 1 JUTA POHON PALA

Kaimana, Di Kota Senja Kaimana Papua Barat kini sedang digalakkan penanaman satu juta bibit pala sebagai persiapan menjadikan komoditas ekspor ini sebagai andalan bagi kabupaten yang baru berusia lima tahun itu. Pencanangan dilakukan Bupati Kaimana Hasan Achmad sejak tahun 2007 dengan mempersiapkan 100.000 bibit.

Luis Umberi, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kaimana mengatakan penanaman bibit dilakukan di tujuh distrik yang terdapat di Kaimana. Ia mengatakan program satu juta pohon ini paling lama terealisasi 2017. Selain penanaman baru, bibit juga disediakan untuk mengganti pohon pala yang telah rusak, ujar Luis.

Ia memperkirakan bibit ini dapat mulai menghasilkan buah sekitar delapan tahun mendatang. Setiap 10 pohon ditargetkan mampu menghasilkan 5-6 ton buah pala. Ia mengatakan selama ini pala hasil garapan petani Kaimana diterima penadah dan pedagang yang mengirimkannya ke Surabaya dan daerah-daerah lain. Harga isi pala Rp 18.000 per kilogram dan buah Rp 35.000 per kilogram.

Buah pala di Kaimana seperti halnya di kabupaten induk Fakfak berbuah setahun dua kali yaitu sekitar bulan April dan Desember. Karena bertepatan dengan musim di lautan, musim angin barat dan angin timur, buah yang matang bulan April biasa disebut Pala Barat dan di bulan Desember disebut Pala Timur.

Menurut data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kaimana, produksi rata-rata per tahun komoditas tanaman perkebunan pala sebanyak 324.443 ton. Hasil ini ingin terus digenjot untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat.

(sumber: kompas)
READ MORE -

West Papua (Indonesian province)

West Papua (Indonesian: Papua Barat; formerly West Irian Jaya or Irian Jaya Barat) with population around 800,000, is the least populous province of Indonesia on the western end of the island of New Guinea. It covers the Bird's Head (or Doberai) Peninsula and surrounding islands. The capital of West Papua is in Manokwari. The province is administratively divided into eight regencies (kabupaten) and one city (kota): * Fak-fak (Fak-Fak) * Kaimana * Manokwari *Raja Ampat (capital Waisai) *Sorong *Kota Sorong (city) *Sorong Selatan (capital Teminabuan) *Teluk Bintuni (capital Bintuni) *Teluk Wondama (capital Rasiei) West Papua was created from the western portion of Papua province in February 2003, initially under the name of Irian Jaya Barat, and was renamed Papua Barat (West Papua) on 7 February 2007. The split remains controversial. Supporters, including those in the central government in Jakarta and immigrants to Papua from elsewhere in Indonesia, argue that the creation of the new province will help ensure the efficient management of resources and fair distribution of services. The split is widely opposed in Papua itself, where it is viewed as a violation of special autonomy laws governing Papua, and as an effort to quell the Papuan separatist movement (see History of Western New Guinea). In November 2004, an Indonesian court agreed that the split violated Papua's autonomy laws. However, the court ruled that because the new province had already been created, it should remain separate from Papua. The ruling also prohibited the creation of another proposed province, Central Irian Jaya, because the split was not yet completed.
READ MORE - West Papua (Indonesian province)

Komisi A DPRP Tolak Pemekaran Provinsi

Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) tidak menerima aspirasi pemekaran provinsi yang dilakukan tidak berdasarkan implementasi UU Otsus. Menurut Wakil Ketua DPRP, Ramses Wally, aspirasi pemekaran provinsi yang tengah didengungkan saat ini, bertolak belakang dari kepentingan oknum-oknum pejabat tertentu. Sehingga tidak lagi melalui mekanisme perundang-undangan yang berlaku (UU Otsus) atau lebih tinggi nuansa politisnya ketimbang memikirkan kesejahteraan rakyat. “Kalau kita lihat, aspirasi pemekaran provinsi saat ini langsung melalui lobi ke DPR RI. Bahkan sekarang sudah ada di meja Presiden tinggal menunggu persetujuan. “Aspirasi yang seperti ini kita dari Komisi A tidak terima. Sebab tidak melalui mekanisme UU Otsus yang mengatur tentang porsi pemekaran,” jelas Ramses Wallu mewakili Ketua Komisi A DPRP, Yance Kayame, saat memberikan keterangan pers di ruang kerja Komisi A DPRP, Senin (25/2) kemarin. Ramses menegaskan, bahwa saat ini pihak DPRP lebih terkonsentrasi untuk mendorong pemekaran wilayah kabupaten. Sebab, masyarakat Papua berada ditingkat bawah, yakni di kampung-kampung bukan diwilayah perkotaan. Dilain pihak, Ramses menilai jika aspirasi pemekaran provinsi terkabulkan maka anggaran pembangunan dalam beberapa tahun kedepan, lebih condong dipergunakan untuk anggaran aparatur maupun pembangunan kantor dan sebagainya. “Kemungkinan kecil anggaran yang ada akan ditujukan kepada masyarakat sampai ke tingkat bawah. Karena dalam proses pemekaran provinsi yang terjadi dimana-mana, anggaran pembangunannya lebih terserap untuk belanja aparatur ketimbang belanja public,” ucap Ramses. Ramses mencontohkan, aspirasi pemekaran provinsi akan jauh lebih baik jika dilakukan setelah masyarakat ditingkat paling bawah (kampung) sudah benar-benar sejahtera. Sehingga hanya ada 1 Majelis Rakyat Papua (MRP), dan tinggal diatur pembagian sumber daya mineralnya hingga kepada dana Otsus agar Papua tidak terpecah-pecahkan. “Kalau pemekaran provinsi itu bisa dilakukan paling tidak masyarakat Papua ditingkat bawah sudah benar-benar sejahtera. Ya, mungkin dalam 10 atau 15 tahun kedepan. Dan munking juga harus ada Gubernur Jenderal yang membawahi seluruh provinsi yang ada di Papua nantinya. Sehingga ada satu MRP yang nantinya akan diatur seluruh pembagian dana Otsus, seluruh sumber daya yang ada sehingga pembagiannya adil dan merata keseluruh provinsi. Tapi ini baru sekedar contoh, dan rakyat harus disejahterakan dulu,” tegasnya. Menyoal tentang aksi Walk Out (keluar ruangan) 5 Bupati kawasan pegunungan pada pelaksanaan Rakerda Bupati/Walikota se-Papua, beberapa waktu lalu Ramses menilai bahwa langkah-langkah itu adaah perbuatan yang memalukan orang Papua. Menurut Ramses, sebenarnya jika para Bupati tidak puas dengan pembagian dana infrastruktur yang tidak merata, maka harus dibicarakan dengan kepala dingin tetapi tidak harus dengan aksi Walk Out. “Jadi, saya pikir itu merupakan satu bentuk kekecewaan mereka kepada Gubernur. Namun, tidak perlu melakukan aksi Walk Out. Ini memalukan orang Papua. Sebab, kalau ada yang tidak disetujui kan bisa disampaikan dengan baik-baik. Tidak perlu dilakukan dengan cara-cara Walk Out,” jelasnya.sumber : http://www.papua.go.id/berita_det.php/id/1692
READ MORE - Komisi A DPRP Tolak Pemekaran Provinsi

Papua Daerah Rawan Gempa

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksikan Provinsi Papua merupakan wilayah yang paling rawan gempa di nusantara. Oleh sebab itu, masyarakat diwilayah ini diminta meningkatkan kewaspadaan dalam setiap aktifitasnya sehari-hari. Demikian kepada ditegaskan Deputy Sistem Data dan Informasi Badan Meteorologi Pusat, Dr. P.J. Prih Harjadi kepada pers usai membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) BMG Wilayah V Jayapura, di Swiss Belhotel Jayapura, Kamis (13/3). Ia mengatakan, berdasarkan geofisika, wilayah Papua termasuk daerah yang paling aktif dari sisi kegempaannya. “Terutama di Papua bagian utara, termasuk pula berpeluang menimbulkan tsunami. Seperti kita ingat tahun 1996 pernah terjadi gempa dengan kekuatan 8 skala richter di Biak dan menimbulkan tsunami yang besar, sehingga Biak bagian utara betul-betul terkena hantaman gelombang itu,” ungkapnya. Menurutnya, potensi bencana lainnya juga cukup rawan, misalnya longsor di Dok II Jayapura yang mengakibatkan 11 orang meninggal, kemudian terkait putting beliung pernah terjadi beberapa kali di beberapa tempat, selanjutnya terkait banjir terjadi di beberapa daerah, mulai dari Sentani, Keerom, Serui dan seterusnya. “Termasuk gelombang tinggi juga beberapa kali terjadi,” katanya. Ia mengatakan, saat ini BMG Pusat akan membangun 30 hingga 35 radar cuaca. Pembangunan radar tersebut bertujuan agar dapat memantau perubahaan cuaca secara cepat. “Tahun 2006, BMG telah membangun 4 unit yaitu di Aceh, Padang, Subaya dan Manado. Kemudian tahun 2007 telah dibangun 3 unit Yaitu di Biak, kemudian di Pontianak dan di Lampung,” paparnya. Ia menambahkan, pada tahun2008 ini akan dibangun tiga unit lagi, yaitu di Jakarta, Semarang dan Denpasar. Sementara itu, untuk wilayah Papua, sedang dirancang pula pembangunan radar cuaca yang akan dipasang di Kota Jayapura, Kabupaten Timika, Merauke dan Sorong. “Program pembangunan radar cuaca ini merupakan bagian dari suatu program yang kita namakan meteorogical early warning system. Ini suatu program untuk memberikan informasi dini terkait bencana yang timbulkan oleh cuaca,” ungkapnya.Source: http://www.papua.go.id/berita_det.php/id/1700 “Target kita mulai 2006 hingga 2010, dan pelaksanaannya sangat tergantung kemampuan keuangan pemerintah. Kemudian terkait program Tsunami Early Warning Sistem, target kita tahun ini selesai, yaitu dengan memasang 160 Sesmo, kemudian ada jaringan yang dia pasang di tengah laut, kemudian beberapa regional center dan national center dan sebagainya, dimana target tahun ini semua sudah bisa selesai,” pungkasnya.
READ MORE - Papua Daerah Rawan Gempa

Don’t Miss Lake Sentani Festival 2008

The Papua Tourism Office (PTO) is going to hold the Lake Sentani Festival on July 16-19 to support the annual Lembah Baliem Festival in Jayawijaya District in August, 2008.
“The Lake Sentani Festival will be held as an effort to protect the culture of the Jayapura District, mainly in the Sentani Lake area,” Head of the PTO Elly Weror said in a statement on 2 February 2008. It means there will be two festivals which not only design to ease tourists wishing to enjoy the festivities but also intended to prolong their stays in the province. Previously, there were only three big cultural festivals, namely the cultural festival of Lembah Baliem, that of Asmat and that of Kamoro. PTO was likewise trying to realize the Cendrawasih Bay Festival.Besides holding the cultural events, the province has been reorganizing the tourist sites in the area, including the Holtekam Beach located some 60 kms from Jayapura.
READ MORE - Don’t Miss Lake Sentani Festival 2008

Fakfak and Jayapura, West Papua

PT. In the book of Nagara-Kertagama writen by Rakawi Prapanca of Majapahit, during the rule of King Hayam Wuruk, in 1365 A.D, it was mentioned that West Papua was belong to Majapahit Kingdom territory. As mentioned in one of its paragraphs that “Muwah tikhan i wandan, ambwan (Ambon) athawa maloko wwanin (Fakfak)” were claimed as the sovereign territory of the kingdom of Majapahit.
Fakfak was likely to be the city center due to its strategic location, such as close to Mollucas. Since the fall of Majapahit 1478, Nusantara has not well organized and in about 1898 the Dutch began serious exploration. During Ducth Colonialization, Jayapura City had been chosen to be a Defense Post of Dutch Army in Pacific area. The Dutch government was assigned P. Windhower at Debi Island, a little island in Yotefa Bay in 1908. In 1912 the post was moved to a mouth of Numbai river, which is a small river that is mouthed in Yos Yudarso Bay. In a formal ceremony, this mouth of Numbai river then named Hollandia on March 7, 1910. The date was then decided to be the birth date of Jayapura. The status of Hollandia City which was a district had become the government Provincial City. Some of the events happened after that moment were the name of Hollandia was changed into Kotabaru (New City), then Sukarnopura and finally Jayapura. However, West Papua is still Indonesia’s “wild east”. Much of it was still unexplored by outsiders in the 1930s. Allied (American and Australian) forces passed through here in 1944 on the way to the reconquest of the Philippines.
After the Indonesians defeated the Dutch in 1949 and 1950, the Dutch insisted on keeping Irian Jaya (West Papua). They finally gave up the colony in 1963, under a combination of military and diplomatic pressure. In 1969, a UN-sponsored referendum led to Irian Jaya becoming a province of Indonesia. The vast development forced the Region Government to split Jayapura to two districts: North Jayapura and South Jayapura. In 1988, Jayapura was become Administrative City and then in 1993 became Jayapura madya City. Lately, with the Act of Region Government number 22 year 1999, it was then becoming Jayapura City. (Lt) Source :http://westpapuapoint.wordpress.com/
READ MORE - Fakfak and Jayapura, West Papua

Anggrek Kribo (Dendrobium Spectabile)

Jakarta. WPP. Bunga Anggrek Kribo (Dendrobium spectabile) is a warm growing species native to Papua, New Guinea and the Solomon Islands. This flower is also used for Universitas Negeri Papua Symbol together with Kupu Sayap Burung (Ornithoptera sp). The 18 inch to 2 foot long canes produce masses of flowers that look like aliens from another world. This plant typically flowers in the winter and early spring months but can also flower in late August through October. Each flower spike can produce 10 - 20 three inch flowers colored in cream, tan, mahogany, purple, and green. The flowers last a couple of and have a nice honey-like fragrance. There are many other orchids growing in Papua such as Anggrek Macan (Grammatophyllum Sp.), Anggrek Merpati (Dendrobium Lineale), Anggrek Emas (Dendrobium Conanthum) and so on. This long lasting which have a honey like scent is usually sold as high as $ 100. (V10)
READ MORE - Anggrek Kribo (Dendrobium Spectabile)

Kunjungan Wapres ke Papua

Jayapura.WPP. Pada Jum’at, 15 Februari 2008 Wakil Presiden H Muhammad Jusuf Kalla tiba di Jayapura. “Dukungan rakyat Papua sangat kondusif,” ujar Dansatgas pengamanan VVIP Kolonel Kav Burhanuddin Siagian yang juga Danrem 172/PWY. Ini tentunya menjadi bukti bahwa rakyat Papua menginginkan pembangunan berkelanjutan. Wapres dan rombongannya tiba di Bandar Udara Sentani sekitar pukul 15.45 WIT dengan pesawat kepresidenan RJ-85 setelah terbang dari Kendari Sulawesi Tenggara. Di Bandara Udara Sentani, Wapres Jusuf Kalla disambut oleh Gubernur Barnabas Suebu, SH, Gubernur Papua Barat Bram O Aturui, Ketua DPR Papua Drs John Ibo, MM, Ketua DPR Papua Barat Demianus Idjie, Ketua MRP Agus Alua, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjend TNI Haryadi Soetanto, Kapolda Irjend Pol Drs Max Donald Aer dan sejumlah pejabat lainnya.Terlihat dalam rombongan Wapres diantaranya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS Pazkah Suzeta, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto dan lain-lain. Terlihat juga Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Fredy Numberi yang sudah tiba sejak Kamis lalu. Setibanya di Bandara Sentani, Wapres Jusuf Kalla langsung istirahat sejenak di ruang tunggu VIP selama kurang lebih 10 menit dan selanjutnya masuk ke mobil kepresidenan yang platnya bertuliskan Indonesia 2 lengkap dengan Bendera Merah Putih. Di mobil tersebut, Wapres didampingi Gubernur Suebu hingga sampai ke Swissbel Hotel Ruko Dok II Jayapura.Sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan Wapres, semuanya berjalan lancar, termasuk cuaca yang bersahabat. Bahkan di sejumlah tempat dipinggir jalan dari Sentani hingga Jayapura terlihat warga yang menyambut rombongan Wapres di tepi-tepi jalan ingin menyaksikan Wapresnya dari dekat. Di SwissbelHotel, Wapres disambut oleh Walikota Jayapura Drs Menase Robert Kambu dan sejumlah pejabat lainnya. Sumber :http://westpapuapoint.wordpress.com/
READ MORE - Kunjungan Wapres ke Papua

A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampat Islands, Papua Province, Indonesia

Acknowledgments This Marine RAP survey was financed by generous donations from the David and Lucile Packard Foundation, the Henry Foundation, and the Smart Family Foundation Inc. We are very grateful to the Rector of the University of Cenderawasih, Mr. F. A. Wospakrik, and the Rector of the University of Papua, Dr. F. Wanggai for supporting this project, and providing the necessary permits and excellent  counterparts. Similarly, we thank Dr. Kurnaen Sumadiharga, Director of the Research and Development  Center for Oceanology of LIPI for his continued support of CI RAP surveys. The survey would not have been possible without the additional support of the Research Institute of the University of Cenderawasih, and the Biak Research Station of the Development Center for Oceanology. We also appreciate the assistance of the Museum of Zoology (LIPI), particularly Dr. Siti N. Prijono (Director), Ristiyanti M. Marwoto (invertebrates), Ike Rachmatika (fishes), and Agus Tjakrawidjaja (fishes). We also thank the following government staff for providing permits and sharing data: John Piet Wanane (Head, Regency of Sorong), Joseph Kbarek (Head, Regency Planning Agency), Constant Karel Sorondanya (Head, Nature Conservation Agency), Ahmad Fabanyo (Head, Dinas Fisheries), A. Rahman Adrias (Head, Dinas Tourism), S. Banjarnahor (Head, Dinas Trade), and Mr. Faisal (Head, Sorong Police Station). In addition, the Indonesian Department of Immigration kindly issued permits that enabled our RAP scientists to perform their survey and training duties. Acknowledgments We are grateful to the people of the Raja Ampat Islands who allowed us to conduct this survey and extended their wonderful hospitality. We thank the Kepala Desa and people of the following villages for their assistance and sharing their knowledge: Waiweser,  Arefi, Yansawai, Marandan Weser, Sapokren, Yenbeser, Friwen, Yenbuba, Waiweser, Yenbekwan, Yenwaupnoor, Sawinggrai, Kapisawar, Arborek, Lopintol, Wawiyai, Kabui, Waifoi, Fam, Mutus, Miosmanggare, Manyaifun, Selpele, and Salio. We also express our gratitude to Taher Arfan (Head of Kepulauan Raja Ampat Adat Council), Fatah Abdullah (Head of Kecamatan Samate), Octavianus Mayor (Head of Kecamatan Waigeo Selatan), and our guide Pak Mayor from Yenbuba village, who accompanied us on our visits to various villages. Yuli Supriyanto and Maisyie helped us to obtain permits and to gather information in Sorong. We were capably assisted by CI-Indonesia staff, including the Director Jatna Supriatna, Ermayanti, Myrna Kusumawardhani, Mira Dwi Arsanty, and Hendrite Ohee. Thanks are due Max Ammer, owner of Irian Diving, and his staff, for providing crucial logistic assistance during the RAP, and for sharing their extensive knowledge of the underwater attractions of the region. Additionally, thanks to  Max Ammer and the Raja Ampat Research and Conservation Center for help with final map editing. We also thank the staff of P.T. Cendana Indopearls, particularly Project Manager Joseph Taylor and Assistant Manager David Schonell, for providing accommodation during our stay at Alyui Bay on Waigeo Island. Mark Allen assisted with color scanning and  prepared the layout for the color pages appearing in this report
READ MORE - A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampat Islands, Papua Province, Indonesia

GRAVELS: THE CHARM OF RAJA AMPAT ISLANDS AND THE THREAT OF THE MINING INDUSTRY

If around the world there were three books about Marine Biodiversity, the sea potential in Raja Ampat should be written in one book. (.statement made by Ex-Field Officer of Conservation International Papua, after research done in May to April 2001). Raja Ampat Islands is situated in a very strategic point, located between Pacific Ocean on the north and Arafura Ocean on the south; exactly on waters that line the provinces of Papua, Moluccas, and North Moluccas. At this location, rich marine biodiversity is abundant with tuna, grouper, napoleon, shells, purples, sea cucumber, and many other living creatures in the waters of the area. A statement from the Conservation International Papua shows that Raja Ampat Islands has an outstanding and spectacular richness of marine biodiversity. One of the researchers, Dr. John Veron, is an experienced shell expert from Australia. He told the press in Jayapura that the islands are the best shell areas in Indonesia. There are at least 450 kinds of shell identifications during only a two-week research. From the 450 kinds, seven are new finds for the world of shell science, and never have been found in any part of the world. In those two weeks, 950 kinds of shell fish were found; four of which are from new classes, like Eviota, Gobi, Apogon, and a shark spesies called Hemysyllium. "Finding shells during only a single visit has never happened before in my whole life. Never has there been shell research to find more than 450 kinds", says Veron delightedly. The same satisfaction is also revealed by Dr. Gerry Allen, "Unbelievable. Only this time have I succeeded to count 283 kinds of shellfish in a 80-minute dive. This is the highest record in my whole career". Moreover, Dr. Fred Wells from Australia also commented that within a short time, he found 600 kinds of mollusks of all sizes. Wells is very certain that there are many more kinds of mollusks in the area. All these scientific experts agree that Raja Ampet is the best marine area in Indonesia and that the area needs good management to avoid damage to this environment from pollution, bombing, and other sea damage. The experts have also stated that the islands should be proposed for a World Heritage Site. This has already been proposed and recommended to the Indonesian government and global community. The scientists also worry about the massive illegal cutting and fish bombing in the area of West Waigeo, in the Raja Ampat Islands. The people depend on the rich marine biodiversity found there. Nickel Deposit Apart form having richness in marine biodiversity, the area also has a large nickel deposit, export-quality forest wood, and several endemic animals: Kakatua Raja (King Cockatoo), Black-Headed Parrot, Penyu Belimbing, and Penyu Sisir. This nickel deposit is situated on Gag Island, a small arid island, inhabited with 600 people. Nickel mining activity has actually been going on since 1970, but because the Company has suffered recent losses, the operation was shut down. Gag Island is located about 150 km from Sorong, Papua, and is home to a nickel deposit of about 176 million tons. The deposit contains laterite nickel ore (about 1.5% of nickel) and Cobalt (about 0.5% of nickel). The deposit ranks third in the world in size, after Voisey's Bay, Canada, and Goro, New Caledonia. It is estimated that mineral activities will last for another 15 to 20 years, with an average production of 60,000 tons a year. Recently, the three mining companies involved in the Gag Island project include PT Aneka Tambang (25% share), BHP Australia (37.5%) and Falconbridge Canada (37.5% share). A feasibility study is being carried out to the end of 2002. Meanwhile, the land compensation issue remains a major issue for the people of North Waigeo and Saiwei. The Threat to Gag Island The kind of wealth contained in the islands has invited foreign mine investors to do business there. Recently, there have been many companies that use chemical substances, like potassium, cyanide, and dynamite to catch fish. No doubt this will damage the marine ecosystem and break the regeneration chain of specific biota within the area. The sea shells and marine ecosystems of and surrounding the Raja Ampat and Gag Islands have been seriously threatened. Furthermore, mining companies want to dump their tailings into the ocean. These tailings contain poisonous and dangerous (B3) substances that can ravage marine life and consumption of contaminated fish from these waters can harm human health. For the mining investors, exploitation in small islands like Raja Ampat has many advantages. Besides the economical benefits, there are at least two more reasons for them to open a mine in the area. First, geographically, Gag Island is in quite a remote location and hard for people to access. This would allow the company to easily exploit the area, without having to worry about protests from any local communities. Secondly, the Company can use such a location to promote the use of STD since its location is directly next to the sea. Another problem is the conflict between the newcomers and locals. Not to mention there are many more employees brought in from outside the area, like Manado, instead of within Papua. This situation poses a potential source of conflict. In utilizing the natural resources, the indigenous communities of Raja Ampat have applied customs from generation to generation. Not only do the customs contain ways to utilize the natural resources, but they also contain order of utilization zoning and the Right for Traditional Policy between one village community and another. These kinds of rules are applied and are very much a part of life in the Maya, Fiawat, and Beser communities. However, how long will these customary traditions survive if large-scale mining is permitted on the islands?
READ MORE - GRAVELS: THE CHARM OF RAJA AMPAT ISLANDS AND THE THREAT OF THE MINING INDUSTRY

DIG IN THE LAND OF BABOs

DIG IN! : The Land of Babos Is Worth Only 15.00 Rupiah to BP The oil and gas giant, BP has squandered the local people's trust in Babo, especially the villages of Tanah Merah and Saengga, Manokwari Regency. Their "noble and accommodating acts" have turned into nothing more than a waste dump, since the Company never shows any real signs to fulfill its sweet promises. Promises of the right to all people, which was earlier mentioned is fundamental. Babo is an area in Manokwari Regency, geographically located in the "Bird's Head" region of Papua Island, precisely around the area of Bintuni Bay. BP intends to explore and exploit the area for natural gas and oil, along with two other municipalities: Bintuni and Aranday. In the beginning, the people gave a warm welcome to the Company's plans to operate in their territory. They optimistically believed the presence of the Company would bring changes and development. Needless to say, it turned out the other way around. "We have been deceived by the company and government; yet we realize we are in a very tough position that up until today we still have not have the courage to voice and fight for our aspirations", stated one villager to PERDU, a NGO in Manokwari Regency that deals with natural conservation and community development. The BP Tangguh LNG project has been presented by BP as win-win contract project (KPS) with a proven LNG deposit of 18,3 TCF, with a possible reserve of 5,4 TCF or more. BP is a multinational company with a majority share in the project. The share division of the Tangguh LNG project, which includes the Weriagar, Berau and Muturi gas fields, includes: BP 50%, Mitsubishi 16%, Nippon 12%, BG 11%, KG (Kanetsu Corp) 10% and Nissho Iwai 1 %. For gas, the share split is 70:30 for Pertamina and the Contractor, minus operational costs. The width of the operational area consists of 3 regencies: Sorong, Manokwari, and Fakfak; all are sacred indigenous lands. In Papua there is no such thing as State Land. The downstream activity (LNG refinery and other infrastructures) consumes about 3,416 hectares of land with later stages of development planning to consume land in the northern coastal area. The Compensation Agreement Based on available information, the Company has made a deal with the local community. In the dialogue, several agreements have been reached, like land compensation, plantation compensation, houses and several social infrastructure constructions (schools, mosques, churches, clean water) at the time of relocation and resettlement, scholarship distribution for the children of Bintuni Bay and the opportunity to become a BP employee. The compensation given turns out to be inhuman. How is it possible that a one-meter-square land be worth Rp 15.00 only, and the community land, a mere Rp 30.00? Moreover, the community land compensation has never really been paid in cash. The company has stolen packets of land for a mere 15.00 Rupiah while resettling the community and promising social infrastructure development. Even today, the people are still dissatisfied with the compensation amount. They are sure they have been deceived by the Company and government. When the negotiation took place, the facilitator called Tim 9, formed by the Manokmawari Regent and lead by a Government Assistant to Bintuni Bay, to press the compensation to such lowness, saying it was based on a decree from the Level II Regent of Manokwari No.213/1997, dated 12 May 1997, about the Standard Compensation Amount for Land and Plantations. The local community was not familiar with the basic compensation amount for land, a right owed to them. The community has entrusted their faith to the mining companies and government. During the process, the first price offered was 300,000,000 Rupiah per hectare; Pertamina-Acro offered 100,000,000 Rupiah per hectare, and so the final price agreed upon was 150,000,000 Rupiah per hectare. The Manokwari Government Administration Region II has always supported and legalized all BP activities. The government also played a strategic role during the negotiation process between the local community and BP. Land compensation was discussed. The compensation amount of Rp 30 per square meter actually did not consider the realistic current and future conditions of the development of the Bintuni Bay area. The location taken over for the LNG refinery, which is as wide as 3000 hectares, in the Tanah Merah village consists of 500 hectares owned by the Simunian ethnic group, 850 hectares owned by the Sowayan ethnic group, and 1600 hectares owned by the Wayurian ethnic group. Meanwhile, the remaining 50 hectares is not compensated. The community voluntarily gave their land to Pertamina-Arco. The Rp 30,000,000, paid was given as compensation for the 200 hectares of loss plant land, based on the Manokwari Regent Decree dated 12 May 2001, No.23/1997. "Not only that, up until now we have not received assurance of when we are going to be relocated. Whereas, BP are now enjoying temporary status to live on the land that is now owned by BP, and we are not allowed to build and plant", stated one Tanah Merah villager. The most dreadful impact that causes fear in the people of Tanah Merah and Saengga are leaky pipes, the refinery and dumping of tailings into the sea, which will pollute and kill an important shrimp resource, fish and crabs, mangroves and will also threaten relocation areas. The air will also be battered by pollution as seen in East Kalimantan. The people are beginning to realize that the agreement they made with BP is a mistake. They do not want similar conditions that are presently occurring in Bintuni Bay to continue and nor do they want what has happened in East Kalimantan. The community must prepare themselves to anticipate bad impacts from the presence of such a refinery. The company continues to parade the positive impacts of such a LNG plant in East Kalimantan and has been involved in socialization programs in each village there. The people are starting to be more critical and are speaking out against the presence of BP. These people generally come from the Sumuri community. This community lives outside the educated Tanah Merah and Saengga areas, like Sorong, Manokwari, and Fakfak. However, there are also those who support the Company, such as the government. Some of the indigenous community of Bintuni Bay call the BP supporters "People who have been bought by BP". Geographically, both Tanah Merah and Saengga villages are situated next to each other in the coastal area of Bintuni Bay. The territory is surrounded by vast land and mangrove forests. An important hydrologic system is existent there, with good water absorbency because of the existing natural vegetation, which has not been spoiled, and the contoured topography. Geologic features include sandy soils. The climate is tropical-wet, with a minimum temperature of 22°C and an average rainfall of 2.688. Fishing, mainly shrimp farming, is the major source of living for the people. The average rate of shrimp production is between 10 to 25 kg/day, especially during peak season periods. The selling price set by PT Usaha Mina and PT Bintuni Mina Raya (Djayanti Group) is Rp 25,000-/kg. This means that the community income in a day reaches about Rp 250,000,- to 625,000,-/kg. But this figure does not include the income gained from selling fish (Rp 7,500,-/kg), shark fin (Rp 400,000,- to 700,000,-/kg), scouts (> Rp 300,000,-/kg), and crocodile skin via several companies. The rich area of Bintuni will become only a memory if BP goes ahead with its LNG operation without any proper environmental care. Source: Information compiled from the Perdu data base
READ MORE - DIG IN THE LAND OF BABOs

PLACES OF INTEREST

Jayapura Jayapura is the capital and the biggest city of this easternmost province. It is a neat and pleasant city, built on the slope of a hill overlooking the bay. General Douglas Mc Arthur's World War II quarters still stand here. The Museum Jayapura is located inside the Cenderawasih University campus. Tanjung Ria Beach, known as base G by the Allies during World War II, is a popular holiday resort with facilities for water sports. From Skyline in the hills behind the city, one gets a beautiful view of Jayapura, Jotefa and Humboldt bays and the lake Sentani area. Lake Sentani There is a settlement on the shore of this lake not far from Jayapura where one can observe local traditions as they are practiced in the daily lives of the people. The short trip from Jayapura, pleasant as it is, offers a little foretaste of the province's magnificent sceneries. Biak Biak, a town built on the rocky soil of an island of the same name on the rim of Cenderawasih Bay, is Irian Jaya's gateway. A big Indonesian naval base, it has an infrastructure that is better than in most other places in the province. Japanese caves are found near Ambroben. There are some good beaches on Biak island, the most popular of which are Bosnik on the east coast, good for swimming and skin-diving, and Korem on the north coast, where one can watch young men dive for pearls. Supiori Island, just north of Biak, has a recreation forest and villages where visitors are welcome. Kasuarina Cape Named after the big casuarina trees which grow in the area, Kasuarina Cape is just two kilometers from Sorong town on the Bird's Head peninsula of northern Irian Jaya. Good for swimming and recreation. The Asmat The Asmat people who live along the remote southeast coast around Agats are famed for their artistic "primitive" woodcarving. Modern civilization did not reach this area until recently. Agats has an interesting museum filled with woodcarvings and other objects. The area, however is still largely untamed wilderness. Asmat crafts received a boost in the late 1960s under a United Nations supported project to encourage local craftsmen to keep alive their art. Daily flights are available between Jayapura, Jakarta and Ujung Pandang. In addition, there are weekly flights to and from Ambon, Surabaya and Bali. PT. Pelni has regular service between Jakarta, Surabaya Ujung Pandang, and Jayapura in comfortable passenger ships. Places in the vicinity of Jayapura such as Skyline and Lake Sentani can be reached by taking a minibus. Biak has air and sea links with Jayapura. Sorong, is also served by air from Jayapura. Other destinations are reached by car or boat, or by light aircraft. source : http://www.etm.pdx.edu/htliono/irja.html
READ MORE - PLACES OF INTEREST

WEST PAPUA

It was the Spaniard Ynigo Ortiz de Retes who, in 1545,    gave the name Nueva Guinea to a strip of land on the north coast of the world's second largest island (after Greenland), which is now half Indonesian, half Papua New Guinean territory. Irian Jaya, the western half of the island, is Indonesia's biggest province of about 410,000 square kilometers, representing almost 21 percent of the country's total land area. More than 75 percent of the land is covered by dense tropical forests, with only about 1.5 million people, with an average population density of 2.8 persons per square kilometer, the lowest in Indonesia. Jayapura, the neat provincial capital on a hillside overlooking the bay, is 3,520 kilometers away from Jakarta. West Papua is a land of exceptional natural grandeur. Its jungles are among the wildest, most impenetrable in the world. Eternal snow capped mountain ridges more than 5,000 meters high, with walls plunge hundreds of meters down onto floors filled with small glacier lakes. It has scenic beaches in abundance as well as immense stretches of marshlands. Cool grassy meadows lie at the foot of the towering mountains. Rivers cut through dark forests until their sluggish, crocodile infested mouths disgorge the water into the sea. The highest peak of the central mountain range is Puncak Jayawijaya (5,500 meters). Second and third are Gunung Trikora (5,160 meters) and Gunung Yamin (5,100 meters), respectively. The biggest lake is Paniai, followed in order of declining size by the lakes Ronbenbai and Sentani, both in the vicinity of Jayapura, and Anggigita near Manokwari. On the basis of physical features and differences in language, customs, artistic expression and other aspects of culture, the indigenous people of Irian Jaya are distinguished into about 250 sub-groups, although they all belong to the Melanesian race, and are related to the people inhabiting the islands along the southern rim of the Pacific. The Negritos are believed to have settled on the island first, probably some 30,000 years ago, followed by the Melanesians. The people of the central highlands still maintain their ancestral customs and traditions, and are virtually untouched by alien influences. Most of the changes have so far taken place among the coastal people, who are being subjected to ever increasing contacts with the world outside. This process of change is being accelerated by the work of missionaries, who have been working for many decades among the local populations. The people of the north and west are mostly Protestants, while those of the south and of the hinterland around Enarotali are Roman Catholics. Those around Fakfak and the Raja Ampat Islands are mostly Moslem. Animism is still practiced by isolated tribes in various parts of the province. Although Irian Jaya is famed for its Bird of Paradise, the province's fauna is not particularly rich. Almost all the animals here are of the Australian fauna type. Copper, oil, timber and sea products like fish and shrimps are among the province's main products. Source : http://www.etm.pdx.edu/htliono/irja.html
READ MORE - WEST PAPUA

MOTIVATION

KETEKUNAN ADALAH KEKUATAN ANDA
Apa yang anda raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan terus-menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Anda harus tetap mengambil langka selanjutnya. Jangan hanya berhenti, maka anda tidak berada di sini sekarang. Setiap langka menaikan nilai diri anda. Apapun yang anda lakukan, jangan sampai kehilangan ketekunan anda. Karena ketekunan adalah daya tahan anda.
PERSEVERANCE was your STRENGTH What is gained by you now was results of small businesses that were carried out by you continually. The success not something that descended just like that. When you were convinced in the aim and your road, then you must have perseverance to continue to try. Perseverance was your capacity to remain in the middle of the pressure and the difficulty. You must continue to took rare furthermore. Not only stopped, then you was not here now. Every time rare menaikan thought yourself. Anything that was done by you, lest losing your perseverance. Because perseverance was your resistance.
READ MORE - MOTIVATION

WELCOME

Selamat Datang Di BLOG ini

,
Adapun Isi Dari Blog Ini

MenyangKut Cerita-Cerita Seputar

WEST PAPUA Gold Island

READ MORE - WELCOME

ROHAMA JOGJA

Postingan :

HuMoR

Translate

Total Pageviews

SEBUAH CATATAN KECIL

Followers

Anda Pengunjung :

hit counter